3 Duet Bek Tangguh Kepunyaan Timnas Indonesia Sebelum Hansamu-Manahati

215 views

Permainan apik Hansamu Yama Pranata dan Manahati Lestusen menjadi salah satu kunci keberhasilan Tim Nasional indonesia bikin kalah Vietnam 2-1 pada leg pertama babak semifinal Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Sabtu (03/12/16). akan tetapi, sebelum era Hansamu Yama dan Manahati, Skuat Garuda mempunyai sebanyak bek papan atas yang ditakuti para tukang serang lawan, Senin (05/12/16).

Duet bek Timnas indonesia, Hansamu Yama Pranata dan Manahati Lestusen, menjadi salah satu faktor mutlak penentu kemenanan Timnas pada kompetisi semalam. Duet bek ‘darurat’ tersebut berhasil bikin para striker Vietnam yang dikenal garang di kotak penalti menjadi mati kutu.

yg terlebih dahulu, indonesia harus kehilangan duet bek andalannya selama babak penyisihan yang dilangsungkan di Filipina. Pada tiga kompetisi penyisihan, pengasuh Timnas, Alfred Riedl senantiasa mengunggulkan Rudolof Yanto Basna yang berpasangan Fachrudin Aryanto untuk membentengi lini pertahanan Skuat Garuda.

Basna dan Fachrudin harus absen pada babak semifinal akibat terima hukuman akumulasi kartu yang mereka peroleh pada waktu itu Timnas jadi pemenang laga hidup mati kontra Singapura. Absennya ke-2 pemain tersebut memaksa Riedl untuk memutar otak guna melacak pengganti yang pas untuk menemani Benny Wahyudi dan Abduh Lestaluhu di sektor pertahanan Timnas.

Pilihan pengasuh asal Austria tersebut selanjutnya jatuh pada Hansamu Yama dan Manahati Lestusen, dan beranjak Gunawan Dwi Cahyo Selayak cuma satu bek tengah murni yang tersisa di bangku simpanan.

ketetapan Riedl tersebut tidak tanpa sebab. Hansamu ialah jebolan Timnas U-19 di era kepengasuhan indra Sjafri, yang berhasil merengkuh gelar juara indonesia untuk yang pertama kali dalam rentang 22 tahun paling akhir.

akan tetapi Manahati, ialah eks Skuat Timnas U-23 pada gelaran SEA Games tahun lalu. Manahati juga pernah didapuk Selayak kapten tim Garuda Muda pada waktu itu menjalani laga penyisihan Kualifikasi Piala Asia U-23 tahun 2013 oleh pengasuh Timnas U-23 waktu itu, Aji Santoso.

ke-2 bek tersebut dikenal kuat pada waktu itu menjumpai duel satu lawan satu. Hansamu dikenal Selayak bek yang kuat berduel di udara. akan tetapi Manahati, dikenal Selayak pemain yang bertipikal keras dan tanpa pandang bulu menghadang pemain lawan. Duet bek tersebut memang cocok untuk dipasang di jantung pertahanan Timnas. kelebihan masing-masing, mereka bisa menutup kelemahan yang dimiliki pada diri ke-2 bek muda tersebut.

Terbukti, kemampuan duet bek anak muda itu berhasil bikin Le Cong Vinh dan kawan-kawan tak berdaya membobol gawang Timnas yang dijaga Kurnia Meiga melewati skema open play. Mereka cuma bisa lakukan tembusan gawang Skuat Garuda lewat Sepakan penalti kontroversial yang didapatkan oleh wasit asal Australia, Jarred Gillett.

indonesia memang populer membuat hasil para duet bek yang bermutu di setiap masanya. Pada 1991 lalu pada waktu itu menggapai emas SEA Games di Manila, Filipina, Timnas mempunyai duet Robby Darwis dan Sudirman yang berhasil menolong Timnas memkalahkan Thailand di babak final.

Untuk mengapresiasi duet bek Hansamu Yama dan Manahati Lestusen yang tampil sepenuh hati pada kompetisi melawan Vietnam, ZB coba merangkum tiga duet bek Timnas yang jaya pada masanya untuk para pembaca setia. selanjutnya ulasannya:

1. Duet Robby Darwis dan Sudirman

Robby Darwis ialah salah satu bek Timnas indonesia waktu menggapai medali emas SEA Games 1987 dan 1991. Sudirman, Robby bahu-membahu membawa Timnas indonesia merebut medali emas SEA Games 1991 di Manila, Filipina.

Robby, yang kala itu lakukan belaan Persib, Sudirman yang berbaju Arseto Solo menjadi pilihan utama lini pertahanan oleh pengasuh Timnas waktu itu, Anatoli Polosin. pengasuh asal Rusia tersebut bikin terapan latihan sistem ekstrem untuk bikin para pemain Timnas mampu berlari Sampai 4 km kurun waktu 15 menit.

Di SEA Games 1991 lampau, indonesia tergabung di kelompok B tuan Tempat Tinggal Filipina, juara bertahan Malaysia, dan Vietnam. Pada babak penyisihan kelompok, Timnas berhasil membuat sesuatu 5 gol dan cuma kebobolan sebiji gol akibat permainan lugas nan apik dari duet Robby dan Sudirman.

Di babak semifinal, Skuat Garuda berhasil memulangkan Singapura melewati adu penalti skor 4-2. Lagi-lagi kombinasi dari duet bek tua-muda tersebut bikin para pemain Singapura frustrasi membobol gawang Timnas yang dijaga oleh Eddy Harto.

Ujian terberat duet Robby-Sudirman datang waktu indonesia menapaki babak final dan akan bertemu Thailand. Duet bek Persib-Arseto itu mampu menjaga gawang indonesia dari kebobolan sepanjang 120 menit waktu normal ditambah babak tambahan.

Datang Selayak tim yang tidak diunggulkan, Skuat Garuda mampu menaklukkan Negeri Gajah Putih melewati adu penalti skor 4-3.

Pada kompetisi yang dilaksanakan di Rizal Memorial Stadium, Manila, yang juga dikenal Selayak kandang Timnas indonesia selama melakukan babak penyisihan Piala AFF 2016 di Filipina, terdapat kejadian menegangkan yang memperindah babak adu penalti.

hingga penendang ke5, ke-2 tim sama-sama membuat hasil tiga gol. akan tetapi, insting tajam dari rekan duet Robby, Sudirman, langkah mantap membidikkan bola keras ke arah tengah kiper Thailand yang terperangah tertipu bola. Gol tersebut membenarkan indonesia merebut medali emas cabang sepakbola SEA Games 1991 di Manila, Filipina.

keberhasilan menang Timnas tersebut menjadikan mereka disambut bak pahlawan di Tanah Air. Seluruh skuat Timnas, terhitung duet bek kuat Robby dan Sudirman mendapat kucuran bonus Rp5 juta dan gaji bulanan seumur hidup sebesar Rp100 ribu per bulan.

indonesia tak akan pernah melupakan kenangan manis di Manila pada 1991 lalu. Berkat tampilan apik dari Robby Darwis dan gol keberhasilan menang Sudirman, Skuat Garuda berhasil membawa pulang gelar juara paling akhir Timnas yang kini belum mampu dihadirkan kembali oleh garis keturunan penerus mereka hingga sekarang.

2. Sugiantoro dan Firmansyah

Timnas indonesia kembali mempunyai duet bek kuat pada waktu itu ikuti Piala AFF (dulunya mempunyai nama Piala Tiger) 2002 yang dilaksanakan di indonesia dan Singapura. Selayak tuan Tempat Tinggal, Skuat Garuda memancangkan target juara membuat datang langsung pengasuh asal Bulgaria, ivan Kolev.

indonesia tergabung di kelompok A Vietnam, Myanmar, Kamboja, dan Filipina. Dari ke-4 musuh-musuhnya, Vietnam jadi musuh terberat Skuat Garuda.

ivan Koleh menjadi penentu “Bejo” Sugiantoro dan Firmansyah untuk menemani posisi Nur’Alim di jantung pertahanan Timnas. Pada zamannya, formasi tiga bek menjadi andalan Kolev sepanjang gelaran kopetisi.

Dari 5 laga Timnas, Bambang Pamungkas dan kawan-kawan cuma kebobolan 5 gol, paling sedikit dari kontestan kelompok A yang lain dari 5 kompetisi yang mereka lakoni di babak penyisihan kelompok. Skuat Garuda juga menjadi pengumpul gol paling banyak di babak penyisihan jumlah semua 19 gol, sama juga yang dicetak Vietnam.

Dua dari 19 gol yang dicetak Timnas ialah buah hasil dari Bejo, yang berhasil letakkan namanya 2 x 1 di papan skor pada waktu itu indonesia gagahnya membantai Filipina skor amat telak, 13-1.

Duet Bejo dan Firmansyah, disaat waktu itu tetap mempunyai usia masing-masing 25 dan 22 tahun, dijuluki Selayak bek muda masa depan indonesia sama layaknya yang dihadapi oleh duet Hansamu Yama dan Manahati Lestusen sekarang ini.

Di umur yang tetap terhitung muda, Bejo dan Firmansyah berhasil membawa Skuat Garuda lakukan tembusan babak final sebelum dikalahkan oleh Thailand melalu adu penalti. Mereka berhasil bikin para pemain kunci Thailand layaknya Kiatisuk Senamuang dan Therdsak Chaiman meneguk pil pahit gagal lakukan tembusan gawang Skuat Garuda yang dijaga oleh Hendro Kartiko.

tampilan tokcer dari Bejo dan Firmansyah selama babak penyisihan hingga babak final harus tercoreng gagalnya mereka berdua mengeksekusi penalti. ke-2 pemain tersebut ditunjuk oleh ivan Kolev Selayak penendang penalti Timnas indonesia di babak adu penalti.

Selayak penendang ke-2, Bejo maju Selayak algojo. ancang-ancang yang kurang jauh, Sepakan keras Bejo melesat deras ke tengah gawang lawan dan membentur mistar gawang Negeri Gajah Putih.

sesudah Bejo yang gagal mengkeksekusi penalti, giliran Firmansyah yang bernasib sama juga bek Persebaya tersebut. Sepakan pemain disaat waktu itu lakukan belaan Persikota melenceng jauh dari gawang lawan.

indonesia selanjutnya kalah adu penalti skor 2-4 dari Thailand dan mengubur impian merebut trofi Piala AFF untuk pertama kalinya yang dilangsungkan Tempat Tinggal sendiri.

3. Duet Maman Abdurrahman dan Hamka Hamzah

Gelaran Piala AFF 2010 menjadi ajang terberhasil bagi duet bek Maman Abdurrahman dan Hamka Hamzah di Timnas indonesia. Mereka berdua tampil kuat sepanjang gelaran kopetisi walau harus kembali terima kenyataan gagal tampil Selayak juara.

indonesia kembali ditunjuk Selayak tuan Tempat Tinggal pagelaran Piala AFF yang ke-8 pada tahun 2010. Vietnam, indonesia menjadi penyelenggara pada kopetisi yang dijuarai oleh Malaysia tersebut.

indonesia tergabung di kelompok A musuh bebuyutan beserta juara bertahan, Thailand. Laos dan Malaysia membuat lengkap empat tim kelompok A yang keseluruh kompetisinya dilaksanakan di Jakarta.

indonesia tampil trengginas pada dua kompetisi awal menghajar Malaysia dan Laos masing-masing skor 5-1 dan 6-1. Di kompetisi paling akhir babak penyisihan, Skuat Garuda berhasil membalas dendam perselisihan kepada musuh bebuyutannya tersebut mengirim tim Negeri Gajah Putih pulang kampung skor 2-1.

keberhasilan menang itu, indonesia berhasil menjadi Atasan atau bisa dikatakan bos utama klasemen kelompok A dan sang juara bertahan harus tersisih lebih cepat di babak penyisihan. Skuat Garuda juga tampil amat produktif membuat sesuatu 13 gol dan cuma kebobolan dua gol. Kunci pertahanan Timnas pada kompetisi penyisihan kelompok terletak pada duo bek lini tengah, yakni Maman Abdurrahman dan Hamka Hamzah.

Zulkifli Syukur dan Muhammad Nasuha, Maman serta Hamkah menjadi tembok kuat di depan kiper Markus Haris Maulana atau biasa dikenal nama Markus Horison. Postur tinggi besar Hamka dan kecerdikan Maman dalam membaca permainan bikin Skuat Garuda cuma kebobolan dua gol hingga babak semifinal.

Di babak final, duet Maman dan Hamka tampil gugup menjumpai Malaysia di kandangnya sendiri. Mereka harus merelakan gawang Markus kebobolan tiga gol tanpa membuat sesuatu sebiji gol pun ke gawang lawan. Hasil itu bikin tampilan duet tersebut tercoreng dan pada selanjutnya perjuangan Timnas lagi-lagi terhenti di babak final.

akan tetapi, berkat tampilan apik selama gelaran Piala AFF 2010, duet Maman dan Hamka tetap akan diingat Selayak salah satu duet bek kuat milik indonesia.

logo